Kemenkes Siagakan 51 Balai Karantina Kesehatan untuk Antisipasi Penyebaran Hantavirus

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Mei 2026, 15:28
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni ditemui usai konferensi pers bersama Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI di Jakarta pada Rabu (13/5/2026). ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari. Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni ditemui usai konferensi pers bersama Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI di Jakarta pada Rabu (13/5/2026). ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyiagakan 51 Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) di seluruh Indonesia untuk mengantisipasi potensi penularan virus hanta atau hantavirus di Tanah Air.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni usai konferensi pers bersama Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia di Jakarta, Rabu, 13 Mei 2026. 

Menjelaskan bahwa fungsi utama 51 lembaga tersebut adalah mencegah dan menangkal ancaman penyakit menular dari luar negeri.

"Ketika terjadi peningkatan kasus penyakit yang berpotensi menjadi wabah di negara lain, kantor kekarantinaan bertugas melakukan pengamatan dan perlindungan agar penyakit tersebut tidak masuk ke Indonesia," katanya.

Baca Juga: Wamenkes Pastikan Kasus Hantavirus di Indonesia Tergolong Ringan dan Tidak Mematikan

Ia menegaskan bahwa sistem tersebut digunakan untuk mengantisipasi penyebaran virus dari luar negeri, termasuk memantau pergerakan penumpang dari negara-negara yang dianggap memiliki risiko tertentu.

Andi menambahkan, pemerintah terus memperketat pengawasan terhadap penumpang pesawat maupun kapal laut yang masuk ke Indonesia, terutama dari negara-negara yang telah teridentifikasi berisiko.

Pengawasan dilakukan melalui pemeriksaan suhu tubuh menggunakan thermal scanner dan pemantauan gejala kesehatan lainnya.

"Contohnya untuk negara-negara tertentu yang sudah diidentifikasi, kita lakukan cek suhu tubuh melalui dengan thermal scanner. Kemudian jika ada gejala, kita mengisi, kan? Orang-orang yang masuk ke Indonesia ada All Indonesia, kalau dulu pakai kertas, sekarang itu sudah pakai barcode digital," paparnya.

Menurut dia, data yang dimasukkan tersebut menjadi bagian penting dalam proses perlindungan kesehatan di pintu masuk Indonesia.

Jika ditemukan gejala mencurigakan, penumpang dapat segera dirujuk ke rumah sakit yang telah ditunjuk pemerintah.

Andi juga menjelaskan bahwa hantavirus yang ditemukan pada kapal pesiar MV Hondius merupakan tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yang berbeda dengan kasus hantavirus yang pernah ditemukan di Indonesia.

Baca Juga: WHO Identifikasi 11 Kasus Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius, Tiga Penumpang Meninggal

"HPS banyak ditemukan di Amerika Selatan dan belum pernah dilaporkan di Indonesia, baik pada manusia maupun tikus. Sementara itu, kasus hantavirus di Indonesia merupakan tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang telah ditemukan sejak 1991 dengan strain Seoul virus," katanya di Jakarta, Senin, 11 Mei 2026.

Ia menegaskan bahwa kasus HPS di kapal pesiar MV Hondius disebabkan oleh strain Andes virus yang dalam sejumlah penelitian dapat menular antar-manusia melalui kontak erat dan berkepanjangan.

Namun demikian, untuk tipe HFRS yang ditemukan di Asia dan Indonesia, hingga kini belum terdapat bukti penularan antar-manusia.

(Sumber: Antara)

x|close