Ntvnews.id, Jakarta - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax mulai memicu perubahan pola konsumsi masyarakat. Di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Jakarta Barat, antrean kendaraan roda dua untuk mendapatkan Pertalite terlihat memanjang pada Rabu siang, sementara jalur pengisian BBM nonsubsidi cenderung sepi.
Salah satu lokasi yang mengalami peningkatan antrean adalah SPBU di Jalan Jakarta Outer Ring Road (JORR), Cengkareng. Puluhan sepeda motor tampak mengular hingga mendekati gerbang masuk SPBU untuk mengisi Pertalite. Sebaliknya, antrean di dispenser Pertamax dan Pertamax Turbo hanya diisi beberapa kendaraan.
Mayoritas pengendara yang mengantre merupakan pengemudi ojek online, kurir logistik, pelajar, hingga ibu rumah tangga yang berupaya menekan pengeluaran harian akibat kenaikan harga BBM nonsubsidi. Di SPBU tersebut, antrean Pertalite mencapai sekitar 20 sepeda motor, sedangkan jalur Pertamax hanya diisi dua hingga tiga kendaraan.
Kondisi serupa juga terjadi di SPBU Jalan Raya Duri Kosambi, Cengkareng. Belasan pengendara rela mengantre dalam dua barisan di bawah terik matahari demi mendapatkan BBM subsidi. Banyak di antara mereka mengaku mulai mengubah kebiasaan penggunaan bahan bakar untuk menjaga pengeluaran rumah tangga maupun biaya operasional pekerjaan.
Salah seorang warga Cengkareng Timur, Dani (28), mengaku sebelumnya rutin menggunakan Pertamax. Namun setelah terjadi kenaikan harga, ia memutuskan beralih ke Pertalite meski harus menghadapi antrean yang lebih panjang.
"Udah ketebak, pasti bakal antre panjang lah Pertalite. Siap-siap aja, kalau ngisi bensin, harus luangin waktu dulu, jangan mepet," kata Dani di Jakarta, Rabu, 10 Juni 2026.
Berbeda dengan Dani, Afrizal (26), seorang pengemudi ojek online, mengaku terpaksa membeli Pertamax senilai Rp20 ribu karena tidak memiliki cukup waktu untuk mengantre Pertalite saat sedang mengejar target pengiriman barang.
"Terpaksa geser ke Pertamax karena antrean Pertalite panjang banget, sementara saya lagi ngejar orderan. Ini cuma buat nyambung jalan sekadarnya. Nanti malam, pas sudah sepi, baru antre Pertalite lagi untuk isi penuh," ujar Afrizal di Jakarta, Rabu.
Ia juga mengeluhkan daya beli yang semakin tergerus karena nominal Rp20 ribu yang sebelumnya bisa mendapatkan lebih banyak BBM kini menghasilkan volume yang lebih sedikit akibat kenaikan harga Pertamax.
Baca Juga: Pertamax Naik Hampir Rp4.000 per Liter, Pertalite dan Solar Tetap
Kekhawatiran lain datang dari Syarif (42), sesama pengemudi ojek online yang sejak awal menggunakan Pertalite. Menurutnya, lonjakan jumlah konsumen yang beralih dari Pertamax ke Pertalite berpotensi meningkatkan tekanan terhadap pasokan BBM subsidi tersebut.
"Kalau saya, memang dari awal pakai Pertalite, tapi takutnya nanti malah langka karena semua orang pindah ke subsidi. Kondisi ekonomi sekarang makin berat, belanja dapur mahal, makan di warteg naik, ditambah beban bensin ini," ungkap Syarif.
Untuk menghemat pengeluaran, Syarif mengaku mulai menyesuaikan biaya perawatan kendaraannya. Ia memilih memperpanjang jadwal servis motor yang sebelumnya dilakukan setiap bulan menjadi dua bulan sekali.
"Biaya servis dan oli impor juga ikut naik. Paling diakali dengan memundurkan jadwal servis, yang biasanya sebulan sekali, jadi dua bulan sekali," ucap Syarif.
Baca Juga: DPR Sebut Naiknya Harga Pertamax Picu Peralihan Konsumen ke Pertalite
Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina Patra Niaga resmi melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi mulai 10 Juni 2026. Di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter atau meningkat Rp3.950 per liter.
Selain Pertamax, harga Pertamax Green 95 juga mengalami kenaikan dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Sementara harga Pertamax Turbo tetap berada di level Rp20.750 per liter. Untuk BBM bersubsidi, harga Pertalite masih bertahan di Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.
Hingga Rabu siang, antrean kendaraan di sejumlah SPBU kawasan Jakarta Barat masih terpantau fluktuatif, namun cenderung padat pada jam-jam sibuk seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap BBM bersubsidi pasca kenaikan harga Pertamax.
(Sumber: Antara)
Antrean kendaraan roda dua yang ingin mendapatkan baham bakar minyak (BBM) bersubsidi, Pertalite, di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kawasan Jakarta Barat terkait kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax, Rabu (10/6/2026). ANTARA/Risky Syukur. (Antara)