Danantara Kaji Pembentukan Perusahaan Leasing Pesawat untuk Dukung Pengadaan Boeing Garuda

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 9 Jun 2026, 07:50
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria memberi keterangan ketika dijumpai setelah menghadiri Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (8/6/2026). (ANTARA/Putu Indah Savitri) Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria memberi keterangan ketika dijumpai setelah menghadiri Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (8/6/2026). (ANTARA/Putu Indah Savitri) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mengkaji kemungkinan pembentukan perusahaan leasing atau penyewaan pesawat terbang milik sendiri. Langkah tersebut menjadi bagian dari berbagai opsi yang sedang dipertimbangkan terkait rencana pengadaan puluhan pesawat baru untuk sektor penerbangan nasional.

Saat ditemui usai menghadiri Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin, Dony menyampaikan bahwa kajian tersebut berkaitan dengan rencana pembelian 50 unit pesawat dari Boeing yang nantinya akan digunakan oleh PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.

“Kami sedang mengkaji juga kemungkinan Danantara untuk membuka perusahaan leasing sendiri,” ujar Dony ketika dijumpai setelah menghadiri Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin, 8 Juni 2026.

Menurut Dony, proses pengadaan pesawat dalam jumlah besar membutuhkan berbagai pertimbangan strategis dan bisnis. Selain menentukan waktu yang tepat untuk mendatangkan armada baru, Danantara juga harus mempertimbangkan model pembiayaan dan skema operasional yang paling menguntungkan, termasuk opsi leasing pesawat.

Baca Juga: Danantara Tegaskan DSI Bukan Calo Ekspor

“Tentu banyak pertimbangan, ya. Tetapi tentu komitmennya harus kami jalankan,” ujar dia.

Ia menambahkan bahwa seluruh opsi yang tersedia masih dalam tahap evaluasi mendalam. Danantara akan memilih langkah yang memberikan manfaat ekonomi paling besar dan efisiensi terbaik bagi perusahaan maupun industri penerbangan nasional.

“Jadi kami pertimbangkan mana yang paling menguntungkan, gitu,” kata Dony.

Rencana pengadaan pesawat Boeing tersebut merupakan bagian dari implementasi kesepakatan perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat yang ditandatangani pada awal Februari 2026. Dokumen bertajuk Toward a New Golden Age for the U.S.-Indonesia Alliance memuat sejumlah komitmen perdagangan timbal balik, termasuk pengadaan pesawat komersial beserta barang dan jasa terkait penerbangan dengan nilai mencapai 13,5 miliar dolar Amerika Serikat.

Baca Juga: Danantara Bantah Isu Perombakan Direksi PLN, Sebut RUPS Belum Digelar

Sebelumnya, Menteri Investasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, menjelaskan bahwa salah satu tindak lanjut dari kesepakatan tersebut adalah rencana pembelian 50 pesawat Boeing yang melibatkan Danantara.

"Dari Agreement Reciprocal Tarif ini, ada beberapa kegiatan yang memang menyangkut di Kementerian Investasi maupun di Danantara, di antaranya rencana pembelian 50 pesawat dari Boeing," ujar Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani dalam Konferensi Pers yang digelar daring dari Washington DC, AS pada Jumat, 20 Februari 2026.

Dengan masih berlangsungnya proses kajian, keputusan final mengenai mekanisme pengadaan maupun pembentukan perusahaan leasing pesawat milik Danantara akan ditentukan setelah seluruh aspek bisnis, operasional, dan finansial selesai dievaluasi secara menyeluruh.

(Sumber: Antara)

x|close