Ntvnews.id , Jakarta
“Makan terlalu banyak gorengan pada saat berbuka atau sahur dapat memberatkan kerja organ tubuh,” kata Yesi kepada ANTARA, Sabtu, 14 Februari 2026.
Menurut Yesi, konsumsi gorengan saat berbuka menyebabkan asupan lemak meningkat tajam, terlebih bila dikonsumsi dalam jumlah banyak. Kondisi ini membuat sejumlah organ vital harus bekerja lebih keras.
Organ pertama yang terdampak adalah hati. Lemak berlebih akan disimpan di organ tersebut dan jika terus menumpuk dapat memicu perlemakan hati. Dalam jangka panjang, kondisi itu berpotensi berkembang menjadi peradangan, sirosis, bahkan kanker hati.
Selain itu, kebiasaan mengonsumsi gorengan juga dapat memengaruhi kesehatan jantung dan pembuluh darah akibat penyumbatan yang dipicu kadar lemak tinggi.
Baca Juga: Jangan Berlebihan, Dokter Ingatkan Takjil Bukan Ajang Makan Besar
“Hal ini dapat meningkatkan kolesterol dalam darah sehingga terjadi penyumbatan berisiko terjadi aterosklerosis dan penyakit jantung koroner,” katanya.
Tak hanya jantung, pankreas dan empedu pun bisa terdampak. Asupan lemak berlebihan berisiko memicu resistensi insulin yang berkaitan dengan diabetes. Ginjal juga dapat terbebani karena harus bekerja lebih keras, sehingga meningkatkan risiko penyakit ginjal kronik.
Yesi menambahkan, paru-paru juga bisa terpengaruh apabila terjadi penumpukan lemak, terutama di area perut, yang dapat menekan diafragma dan menimbulkan sesak napas.
"Efek lainnya terjadi pada sistem reproduksi yang dapat menyebabkan penurunan kesuburan karena ketidakseimbangan hormon," kata Yesi.
Dari sisi pencernaan, berbuka dengan gorengan dapat membuat saluran cerna bekerja ekstra setelah kurang lebih 12 jam tidak menerima asupan makanan.
Yesi juga mengingatkan bahwa konsumsi gorengan yang terlalu sering akan semakin berisiko bagi individu dengan kelebihan berat badan atau obesitas, karena dapat memperparah perlemakan hati dan gangguan metabolik lainnya.
“Apabila terjadi terus menerus dan tidak diimbangi dengan asupan serat yang cukup dan aktivitas fisik yang memadai, maka terjadi penumpukan lemak di dalam tubuh yang sangat berisiko terjadi obesitas, penyakit jantung, stroke, perlemakan hati, diabetes melitus, kanker dan penyakit lainnya,” katanya.
Baca Juga : Ada Takjil Gratis di Halte TransJakarta Selama Ramadhan! Lebih dari 520 Ribu Paket Dibagikan
Terkait batas aman, Yesi menyarankan konsumsi gorengan maksimal dua buah per hari bagi individu dengan status gizi normal, dengan catatan tidak disertai menu lain yang digoreng atau bersantan pada waktu makan yang sama.
Bagi mereka yang mengalami kegemukan atau obesitas, gorengan sebaiknya dihindari. Namun, jika ingin mengonsumsi, cukup satu kali dalam sepekan.
Ia juga menekankan pentingnya menggunakan minyak baru, bukan minyak bekas pakai berulang, serta mengimbangi dengan asupan serat dan aktivitas fisik yang cukup.
Untuk pilihan berbuka yang lebih sehat, Yesi menyarankan memulai dengan air putih, kemudian dilanjutkan dengan takjil yang mudah dicerna dan mengandung elektrolit guna menggantikan cairan tubuh yang hilang selama puasa.
Beberapa contoh yang dianjurkan antara lain kurma, air kelapa, buah-buahan segar, atau salad buah yang mendukung metabolisme tubuh tetap optimal.
(Sumber : Antara)
Aneka takjil di salah satu kios di kawasan Jalan Sabang Jakarta Pusat, Kamis (19/2/2026). (ANTARA/Pamela Sakina) (Antara)