Ntvnews.id, Jakarta - Isu kesehatan mental bagi perempuan modern yang menjalani peran ganda sebagai profesional sekaligus ibu rumah tangga menjadi salah satu sorotan utama dalam acara Kartini Leaders Fest yang digelar Nusantara TV.
Ockti Palupi Rahayuningtyas selaku Direktur Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan RI, menekankan pentingnya keberanian perempuan untuk bersuara atau speak up demi menjaga keseimbangan hidup.
Dalam pemaparannya, Ockti menyoroti bahwa masih banyak perempuan yang merasa enggan untuk mengungkapkan beban yang mereka rasakan, terutama saat mengalami perundunganatau tekanan mental.
"Perempuan harus berani mengungkapkan. Ketika dia ter-bully, dia harus berani speak up. Saya melihat tidak semua perempuan berani karena faktor sosial-budaya maupun edukasi. Padahal, mental perempuan harus dijaga tetap sehat," ujar Ockti Palupi Rahayuningtyas di NT Tower, Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026.
Bagi Ockti, tantangan terbesar perempuan masa kini adalah menghadapi "beban ganda". Setelah lelah bekerja di kantor, perempuan seringkali dihadapkan pada situasi rumah tangga yang menuntut energi ekstra, seperti menghadapi anak-anak yang sedang rewel. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini sangat rentan memicu depresi.
Kuncinya, menurut Ockti, adalah kemampuan untuk menempatkan diri secara tepat dan memisahkan batasan antara pekerjaan dan rumah.
"Ketika di posisi profesional, bekerjalah secara profesional dan lepaskan pikiran tentang rumah. Sebaliknya, saat kembali ke rumah sebagai ibu, lepaskan pekerjaan, jangan dibawa ke rumah. Jika kita mampu menempatkan diri di mana kita berada, kita akan jauh dari depresi," jelasnya.
Salah satu hambatan terbesar dalam penanganan kesehatan mental di Indonesia adalah stigma negatif. Ockti menyayangkan pandangan masyarakat yang masih menganggap pergi ke psikiater atau psikolog sebagai tanda "sakit jiwa".
Ia mendorong para perempuan untuk tidak ragu mencari bantuan profesional jika curhat kepada pasangan, atasan, atau kolega dirasa belum cukup.
"Ke psikiater atau psikolog itu bukan berarti sakit jiwa. Bahkan untuk depresi ringan pun, bantuan profesional sangat membantu seseorang untuk merilis bebannya. Tujuannya agar dia bisa kembali bekerja dan menjalankan fungsinya dengan baik," tambahnya.
Di akhir sesi, Ockti menitipkan pesan kuat bagi seluruh perempuan Indonesia untuk lebih peka terhadap kondisi diri sendiri. Baginya, menyadari bahwa diri "sedang tidak baik-baik saja" adalah langkah awal menuju pemulihan.
"Ayo kita harus berani speak up, berani menyadari diri sendiri ketika dalam keadaan tidak baik-baik saja. Cari pertolongan segera supaya tidak semakin parah. Berani speak up!" tutupnya dengan penuh semangat.
Melalui pesan ini, Kartini Leaders Fest berharap perempuan Indonesia tidak hanya kuat secara lahiriah, tetapi juga memiliki ketangguhan mental untuk menghadapi tantangan zaman.
dr. Ockti Palupi Rahayuningtyas selaku Direktur Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan RI (NTV)